Review Tales of Eternia Remastered: Klasik PS1 yang Kembali dengan Fitur Modern

Ulasan gambaran Tales of Eternia Remastered dari laporan publik: cerita dua dunia, pertarungan real-time, fitur kenyamanan baru, visual, audio, dan kekurangannya.

06 Nov 2026 - 03:46
Updated: 1 day ago
0 1
Seni resmi Tales of Eternia Remastered dengan panah merah
Seni resmi Tales of Eternia Remastered dengan panah merah

Pernah nggak kamu dengar nama satu game lama yang katanya bagus banget, tapi begitu mau cari, gamenya sudah susah didapat? Itu yang selama bertahun-tahun dirasakan banyak penggemar Tales of Eternia. Game ini pertama kali rilis di PlayStation tahun 2000 di Jepang, lalu masuk Amerika Utara tahun 2001 dengan nama Tales of Destiny II, dan sempat hadir di PSP. Setelah itu, lama sekali game ini tidak punya versi modern yang gampang dibeli.

Nah, Oktober 2026 kemarin, Bandai Namco akhirnya merilis Tales of Eternia Remastered. Versi ini digarap TOSE, studio yang sebelumnya juga mengerjakan Tales of Graces f Remastered, dan jadi pembuka proyek remaster untuk seri Tales yang masih 2D. Jadi, apakah versi ini layak kamu beli, apalagi kalau kamu belum pernah main game aslinya?

Jujur saja dari awal: artikel ini bukan klaim "sudah tamat lalu menilai". Ini gambaran review yang disusun dari informasi resmi dan ulasan publik yang sudah beredar, supaya kamu bisa memutuskan dengan kepala dingin. Tidak ada skor buatan sendiri di sini, karena yang kami kutip hanyalah skor yang memang sudah dipublikasikan kritikus lain, dan itu pun kami sebut sumbernya.

Ceritanya Tentang Apa?

Tales of Eternia bercerita tentang dua dunia: Inferia dan Celestia. Ceritanya dimulai dari hal yang kelihatan sederhana. Reid dan Farah, dua anak muda dari desa kecil di Inferia, hidup tenang sampai suatu hari seorang gadis bernama Meredy jatuh dari langit. Meredy tidak bisa bicara bahasa Inferia, dan kedatangannya ternyata bukan kebetulan.

Dari situlah cerita pelan-pelan membesar. Yang awalnya terasa seperti petualangan ringan, lama-lama berubah jadi cerita soal dunia yang terancam hancur. Dua dunia yang selama ini terpisah ternyata punya hubungan yang tidak bisa diabaikan, dan rombongan Reid harus mencari cara supaya kehancuran itu tidak terjadi.

Yang bikin cerita ini masih dibicarakan sampai sekarang adalah karakternya. Reid itu tipe protagonis yang santai dan sering jadi penyeimbang suasana. Farah blak-blakan dan tidak sungkan menyela kalau ada yang aneh. Keele, si kutu buku yang gemar belajar, sering berdebat dengan Reid soal pengetahuan. Meredy sendiri jadi sorotan banyak ulasan, karena begitu latar belakangnya mulai terbuka, karakternya terasa jauh lebih dalam dari kesan pertamanya.

Dialog antar karakter ini juga hidup lewat skit, percakapan opsional khas seri Tales. Di versi remaster ini, skit dikembalikan dalam kondisi lengkap, sudah disulih suara, dan ada teksnya. Buat kamu yang suka JRPG karena interaksinya, bukan cuma karena pertarungannya, ini bagian yang paling terasa bedanya dibanding versi Barat lama.

Gameplay-nya Masih Terasa Klasik, dan Itu Sengaja

Kalau kamu terbiasa dengan JRPG modern yang kameranya bebas bergerak ke segala arah, bersiaplah: pertarungan Tales of Eternia masih memakai Linear Motion Battle System, sistem klasik seri Tales. Pertarungan berjalan real-time, dilihat dari samping, dan karakter bergerak di satu garis lurus seperti arena game fighting.

Kamu menyerang dengan tombol, menghindar, memblokir, dan memakai jurus yang disebut Artes lewat kombinasi tombol. Ada juga sistem Craymel, semacam sihir yang bisa digabung untuk menghasilkan serangan yang lebih kuat. Misalnya, serangan digabung dengan elemen petir untuk efek yang berbeda. Buat pemain baru, ini mungkin terasa ramai di awal, tapi begitu kamu paham ritmenya, kombinasi serangan dan waktu yang tepat justru jadi sumber serunya.

Kecepatan belajar teknik juga dipercepat di versi remaster ini, menurut laporan dari Tokyo Game Show 2026. Jadi kamu tidak harus menggiling terlalu lama hanya untuk membuka jurus baru. Selain itu, ada beberapa bantuan modern yang bisa kamu atur sendiri:

  • Battle Retry, supaya pertarungan yang gagal bisa diulang tanpa harus mengulang bagian jauh sebelumnya.
  • Quick Recovery, untuk memulihkan kondisi rombongan dengan lebih cepat.
  • Pengaturan frekuensi encounter, bahkan sampai bisa dimatikan sepenuhnya kalau kamu sedang malas diganggu musuh acak saat menjelajahi area lama.
  • Battle Fast Mode, semacam autopilot untuk pertarungan, cocok kalau kamu sedang mengulang area yang sudah kamu kuasai.
  • Penanda tujuan di peta, supaya kamu tidak tersesat hanya karena lupa harus ke mana.

Semua itu sifatnya pilihan. Kalau kamu mau pengalaman yang mendekati aslinya, kamu bisa mematikan bantuan-bantuan itu dan main dengan cara manual penuh. Kalau kamu mau santai, bantuan itu ada dan tidak memaksamu.

Di luar pertarungan, ada juga sistem Craymel Cage yang sering dipuji kritikus. Sederhananya, ini sistem pendamping yang membuatmu bisa mengatur makhluk dan kemampuan pendukung, dan kedalamannya lumayan terasa begitu kamu mulai mengutak-atiknya. Ada juga mini-game, seperti arung jeram, menggulingkan bola, dan permainan kartu. Mini-game ini memang tidak semuanya seimbang kualitasnya, dan beberapa ulasan menyebutnya sebagai bagian yang paling tidak rata. Tapi kehadirannya bikin dunia game ini terasa tidak cuma soal jalan dari satu kota ke kota lain.

Visual, Audio, dan Performa: Remaster, Bukan Remake

Penting untuk meluruskan satu hal: ini remaster, bukan remake total. Artinya, kerangka game aslinya dipertahankan, lalu presentasinya diperbarui dan ditambah fitur kenyamanan. Kalau kamu berharap dunianya dibangun ulang dari nol dengan grafis setara game 2026, kamu akan kecewa. Tapi kalau kamu berharap game lama yang bisa dimainkan dengan nyaman di perangkat modern, ini tepat sasaran.

Versi remaster ini memberi kamu pilihan tampilan: grafis asli atau grafis remaster yang lebih halus. Ada juga pilihan efek suara asli atau efek suara baru. Jadi kalau kamu tipe pemain yang justru suka tampilan jadulnya, kamu bisa kembali ke mode asli. Beberapa ulasan menyebut perbedaan visualnya memang tidak besar, dan adegan film animasinya tidak mengalami peningkatan yang terlalu kentara di layar besar. Di layar genggam seperti Steam Deck, tampilan aslinya justru masih terasa nyaman menurut salah satu ulasan.

Soal audio, ini salah satu peningkatan yang paling penting. Versi remaster menghadirkan naskah Inggris baru dan sulih suara Inggris baru, sekaligus mengembalikan sulih suara Jepang asli yang dulu tidak tersedia di versi Barat. Musiknya tetap jadi salah satu kekuatan seri ini, dengan lagu-lagu yang gampang diingat untuk tiap tempat yang kamu kunjungi, dan makin tegang saat situasi cerita memanas.

Performanya juga ringan. Semua versi ditargetkan berjalan sampai 60 fps, dengan resolusi yang berbeda-beda tergantung perangkat: PS5 dan Xbox Series X sampai 4K, Xbox Series S 1440p, PS4 1080p, Switch 2 4K saat dock dan 1080p saat handheld, Switch pertama 1080p saat dock dan 720p saat handheld, dan PC sampai 4K tergantung monitor. Bandai Namco sendiri menyebut angka itu sebagai target, dan frame rate bisa berfluktuasi sementara tergantung kondisi permainan. Buat PC, spesifikasi minimumnya juga tidak berat: Windows 11 64-bit, prosesor Intel Core i3-8100 atau AMD Ryzen 3 3100, RAM 4 GB, dan DirectX 12. Jadi laptop atau PC kelas menengah pun masih bisa menjalankan game ini dengan nyaman.

Ada juga satu hal buat pemain yang suka tantangan: setelah menamatkan game satu kali, terbuka tingkat kesulitan tertinggi yang baru. Jadi kalau kamu merasa permainan pertamamu terlalu mudah karena bantuan-bantuan tadi, masih ada alasan untuk kembali.

Kelebihan yang Paling Sering Disebut

Dari berbagai ulasan publik, ada beberapa poin yang berulang kali muncul sebagai kelebihan:

Pertama, ceritanya. Banyak kritikus menyebut plot Eternia sebagai salah satu yang paling kuat di seri Tales, karena dimulai ringan lalu makin gelap dan serius, tanpa kehilangan kehangatan antar karakternya.

Kedua, pertarungannya. Sistem 2D real-time-nya dinilai masih asyik sampai sekarang, terutama karena kombinasi serangan, posisi, dan jenis damage seperti tebasan, tusukan, dan tendangan yang dipengaruhi senjata tiap karakter.

Ketiga, durasi yang padat tapi tidak bertele-tele. Laporan ulasan menyebut permainan ini bisa memakan waktu sekitar 30 sampai 40 jam. Buat JRPG, itu termasuk ringkas. Kamu tidak harus meluangkan 100 jam untuk sampai ke akhir cerita.

Keempat, fitur kenyamanan yang benar-benar membantu, terutama Battle Retry dan pengaturan encounter. Ini yang membuat game lama terasa lebih ramah untuk pemain baru.

Kelima, pelestarian. Buat penggemar lama, ini akhirnya cara resmi dan mudah untuk memainkan lagi game yang selama ini hanya bisa diakses lewat perangkat lama.

Kekurangan yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Beli

Tidak ada game yang sempurna, dan versi ini pun punya catatan yang sebaiknya kamu tahu sejak awal.

Pertama, pertarungannya bisa terasa sulit dibaca. Karena semua karakter bergerak di satu garis dan sprite-nya bisa saling menumpuk, kadang sulit membedakan posisi karaktermu sendiri. Buat sistem yang mengandalkan posisi dan timing, ini kelemahan yang nyata, dan beberapa kritikus menyebutnya sebagai alasan kenapa pertarungan bukan daya tarik utama bagi semua orang.

Kedua, lingkungan dan kotanya terasa dari zamannya. Desain kotanya tidak semegah JRPG modern, dan beberapa area terasa kosong kalau dibandingkan dengan standar sekarang.

Ketiga, peningkatan visualnya terbilang sederhana. Kalau kamu membeli game ini dengan ekspektasi "remaster" berarti grafisnya berubah total, kamu mungkin merasa labelnya agak terlalu murah hati.

Keempat, mini-game-nya tidak rata. Ada yang seru, ada yang terasa seperti tempelan. Ini bukan penghalang utama, tapi jangan berharap semua mini-game-nya seasyik cerita utamanya.

Kelima, kurva belajarnya tidak terlalu ramah untuk pemain yang benar-benar baru dengan seri Tales. Sistemnya memang dijelaskan, tapi kamu tetap perlu waktu untuk nyaman dengan ritme pertarungannya.

Soal penilaian kritikus, angkanya beragam, dan itu wajar. Noisy Pixel memberi 8,5 untuk versi PS5 dan memuji pertarungan 2D-nya, sementara FinalBoss memberi 7 dari 10 dan merekomendasikannya terutama untuk pemain yang mengutamakan cerita, dengan catatan soal pertarungan dan lingkungan yang terasa dari zamannya. Perbedaan ini justru berguna buat kamu: kalau kamu tipe pemain cerita, game ini lebih mudah direkomendasikan; kalau kamu tipe pemain yang mengutamakan pertarungan modern dan dunia yang dibangun ulang, kamu mungkin perlu menunggu diskon.

Harga, Platform, dan Edisi

Tales of Eternia Remastered rilis di Jepang 15 Oktober 2026 untuk konsol, dan secara global 16 Oktober 2026, dengan versi Steam menyusul pada tanggal yang sama menurut pengumuman Bandai Namco. Platformnya lengkap: PS5, PS4, Xbox Series X|S, Nintendo Switch, Nintendo Switch 2, dan PC lewat Steam. Satu pembelian digital PlayStation mencakup versi PS4 dan PS5, tapi dua versi Nintendo tidak punya jalur upgrade dan save-nya tidak bisa saling dipakai, jadi perhatikan ini sebelum beli.

Harga standar di Amerika Serikat dilaporkan 29,99 dolar AS, sementara Deluxe Edition 49,99 dolar AS. Harga di Indonesia bisa berbeda tergantung toko dan kurs, jadi cek halaman toko sebelum membayar. Satu hal lagi: game ini single-player, jadi tidak ada mode multipemain yang perlu kamu khawatirkan soal server atau teman main.

Cocok untuk Siapa?

Game ini paling cocok buat kamu kalau kamu suka JRPG dengan cerita yang kuat, tidak keberatan dengan pertarungan 2D klasik, dan penasaran dengan salah satu seri Tales yang selama ini sulit diakses. Ini juga cocok buat penggemar lama yang ingin mengulang dengan fitur kenyamanan modern, tanpa harus menyalakan konsol lama.

Sebaliknya, kalau kamu mencari JRPG dengan dunia terbuka yang luas, pertarungan aksi 3D bebas, atau grafis yang dibangun ulang total, game ini mungkin bukan pilihan pertamamu. Lebih baik kamu coba dulu lewat video gameplay atau tunggu diskon, supaya ekspektasimu sesuai dengan apa yang memang ditawarkan versi remaster ini.

Buat kamu yang masih ragu, ada cara gampang menilainya: tanyakan ke dirimu sendiri, apa yang lebih kamu cari, cerita atau tampilan? Kalau jawabannya cerita, karakter, dan pertarungan klasik yang masih asyik, Tales of Eternia Remastered punya semua itu. Kalau jawabannya tampilan modern dan dunia yang terasa baru, kamu mungkin akan lebih puas dengan JRPG lain yang memang dibuat dari nol untuk perangkat sekarang.

Yang jelas, kehadiran game ini penting. Seri Tales punya banyak judul lama yang belum tentu bisa dimainkan generasi baru, dan setiap remaster yang dikerjakan dengan hormat terhadap aslinya adalah kabar baik. Eternia mungkin bukan remaster yang paling wah secara visual, tapi sebagai cara untuk akhirnya memainkan salah satu cerita terbaik seri ini di perangkat modern, game ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Aldo Suhendro

Founder & Chief Editor di COC Komputer. Berpengalaman 10+ tahun merakit PC dan men-tuning hardware enthusiast.

Comments (0)

User