Review Final Fantasy Resonance: Ulasan Lengkap dari Cerita sampai Gameplay
Ulasan gambaran Final Fantasy Resonance dari laporan publik: cerita, sistem pertarungan, visual HD-2D, performa, kelebihan, kekurangan, dan untuk siapa game ini cocok.
Pernah nggak kamu kangen sama Final Fantasy zaman dulu, yang pertarungannya giliran demi giliran, dunianya dijelajahi lewat peta dunia, dan ceritanya soal kristal yang harus dilindungi? Kalau iya, Final Fantasy Resonance mungkin adalah game yang selama ini kamu tunggu. Game ini rilis 22 Oktober 2026 untuk PC, PlayStation 5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch, dan Nintendo Switch 2, dikembangkan Square Enix bersama Lancarse, dan dijual dengan harga sekitar 49,99 dolar menurut laporan ulasan.
Sebelum lanjut, satu hal perlu diluruskan supaya kamu tidak salah paham. Artikel ini disusun dari ulasan dan laporan publik tentang game ini, bukan dari pengalaman penulis yang sudah menamatkannya sendiri. Jadi, yang kamu baca di sini adalah gambaran yang dirangkum dari apa yang dilaporkan para pengulas, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya, bukan skor buatan atau klaim permainan pribadi.
Lalu, sebenarnya Final Fantasy Resonance itu game apa? Kenapa banyak pengulas yang menyebutnya sebagai salah satu entri terbaik seri ini belakangan? Dan, yang tidak kalah penting, apa saja kekurangannya sebelum kamu memutuskan beli? Kita bahas satu per satu.
Dari Game Mobile Menjadi Game Konsol Utuh
Hal pertama yang bikin banyak orang terkejut adalah asal-usul game ini. Final Fantasy Resonance didasarkan pada musim pertama Final Fantasy Brave Exvius, game mobile yang versi globalnya sudah tutup pada 2024. Mendengar kata "berdasarkan game mobile", wajar kalau kamu langsung curiga. Apakah ini game gacha yang dipindahkan begitu saja ke konsol?
Jawabannya, menurut para pengulas, tidak. Semua unsur gacha sudah dihapus. Tidak ada banner summon yang memancingmu mengeluarkan uang, tidak ada batas stamina, tidak ada tugas login harian yang terasa memaksa. Yang tersisa adalah cerita, para karakternya, dan sistem pertarungannya, yang kemudian dibangun ulang menjadi game konsol dan PC yang utuh.
Karena itu, kamu tidak perlu pernah memainkan Brave Exvius untuk menikmati Resonance. Ceritanya berdiri sendiri. Kalau kamu pernah main game mobile itu, kamu mungkin akan mengenali alur besarnya, tapi susunannya sudah dirombak supaya enak dimainkan dalam sesi panjang, bukan potongan-potongan pendek seperti di ponsel.
Pendekatan ini sebenarnya cukup berani. Square Enix mengambil materi lama yang sebenarnya punya cerita bagus, lalu memberinya panggung yang layak. Hasilnya, menurut banyak ulasan, terasa seperti lagu bagus yang akhirnya direkam di studio yang proper, bukan sekadar demo kasar.
Cerita Klasik Soal Kristal, Ksatria, dan Kawan Lama
Cerita Resonance berlatar di dunia Lapis, tepatnya di Kerajaan Grandshelt. Kamu mengikuti Rain dan Lasswell, dua sahabat masa kecil yang bertugas sebagai ksatria di skuadron kapal udara kerajaan. Penyelidikan mereka soal Kristal Bumi berubah menjadi bencana saat sosok berbaju zirah hitam bernama Veritas of the Dark mengalahkan mereka dan menghancurkan kristal itu.
Dari situ, perjalanan mereka melebar. Mereka belajar soal Sworn Six, sekelompok prajurit berzirah, dan berangkat melindungi kristal-kristal dunia yang tersisa. Di tengah jalan, mereka bertemu Fina, gadis yang terhubung dengan Kristal dan hampir tidak mengingat masa lalunya. Misteri soal siapa Fina menjadi salah satu benang cerita yang terus membuat pemain penasaran.
Secara nada, cerita ini memang klasik. Ini kisah soal tugas, persahabatan, dan dunia yang terancam, dengan gaya yang mengingatkan pada manga dan anime shonen. Rain digambarkan sebagai sosok yang siap maju duluan kalau ada masalah, sementara Lasswell lebih dulu berpikir sebelum bertindak. Perbedaan kepribadian ini membuat percakapan mereka enak diikuti, tidak sekadar dialog pengantar dari satu kota ke kota lain.
Ada juga banyak referensi ke seri Final Fantasy lain. Daerah dan konfliknya mengambil inspirasi dari berbagai judul utama, misalnya suasana pemberontakan yang mengingatkan pada Final Fantasy VI. Buat fans lama, menemukan referensi semacam ini adalah kesenangan tersendiri. Buat pemain baru, ceritanya tetap bisa diikuti tanpa harus hafal semua sejarah seri ini.
Tapi, cerita klasik juga punya sisi lemahnya. Beberapa pengulas menyebut ceritanya kadang terlalu mengandalkan nostalgia, dan ada satu plot twist di bagian akhir yang menurut mereka kurang dijelaskan dengan baik. Ada juga kritik soal kedalaman tema. Saat cerita menyentuh soal kekaisaran dan pemberontakan, ada pengulas yang merasa pembahasannya kurang menggigit. Jadi, kalau kamu mencari cerita yang gelap dan penuh kejutan moral yang rumit, Resonance mungkin terasa terlalu lurus dan aman. Kalau kamu mencari cerita petualangan yang hangat dan mudah diikuti, ini justru kekuatannya.
Visual HD-2D yang Bikin Dunia Lama Terasa Baru
Salah satu hal yang paling dipuji dari Resonance adalah tampilannya. Game ini memakai gaya HD-2D, yaitu karakter dan dunia bergaya piksel yang dipadukan dengan pencahayaan dan efek modern. Hasilnya, dunia Lapis terasa hidup tanpa kehilangan rasa klasiknya.
Kota, desa, gua, dan dungeon dijelajahi dari atas, seperti JRPG klasik, dan dihubungkan oleh peta dunia yang proper. Peta dunia ini bukan sekadar hiasan. Ada rahasia yang bisa kamu temukan, termasuk summon Esper opsional untuk Fina, yang menurut laporan kembali setelah terakhir muncul di Final Fantasy IX. Buat pemain yang suka menjelajah, ini adalah alasan bagus untuk tidak sekadar lari dari satu tujuan cerita ke tujuan berikutnya.
Ada juga fitur kecil yang menyenangkan, yaitu Active Time Chat. Ini adalah obrolan singkat antar karakter yang muncul di tengah perjalanan, mirip dengan sistem skit di seri Tales. Obrolan ini membantu kamu lebih mengenal para karakter di luar adegan cerita utama, dan membuat perjalanan terasa tidak sepi.
Sayangnya, tidak semua unsur visualnya mulus. Beberapa pengulas mencatat ada serangan CGI yang tampilannya tidak sepenuhnya menyatu dengan gaya HD-2D. Ini bukan masalah besar yang merusak game, tapi cukup terlihat buat pemain yang peka soal gaya visual. Anggap saja seperti satu potong puzzle yang warnanya sedikit berbeda dari yang lain.
Pertarungan Giliran yang Memaksamu Berpikir
Kalau ada satu hal yang membuat Resonance menonjol, itu adalah sistem pertarungannya. Ini adalah pertarungan giliran klasik dengan tim empat orang dan menu perintah, tapi dengan lapisan strategi yang membuatnya tidak terasa kuno.
Pertama, ada sistem stagger. Kamu menyerang kelemahan musuh untuk mengisi gauge, dan saat gauge itu pecah, musuh menjadi rentan dan menerima damage besar. Kedengarannya sederhana, tapi para pengulas menekankan bahwa stagger di sini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja kalau kamu asal menekan tombol serang. Kamu harus merencanakan urutan aksimu, memikirkan siapa melakukan apa, dan kapan waktunya menyerang kelemahan tertentu.
Kedua, ada ekonomi giliran. Berbeda dengan Final Fantasy X, karakter di sini hanya bisa bertindak sekali per ronde. Saat seorang karakter memecahkan stagger musuh dengan menyerang kelemahannya berulang kali, ia mendapat giliran bonus. Dan saat semua musuh di layar sudah di-stagger, seluruh tim mendapat satu ronde tambahan, dan serangan Resonance dari Vision bisa digunakan. Serangan Resonance ini setara dengan Limit Break, serangan pamungkas yang terasa memuaskan saat dilepaskan di momen yang tepat.
Ketiga, ada sistem Vision, yang disebut banyak pengulas sebagai fitur inti terkuat game ini. Hampir setiap karakter di luar protagonis utama muncul sebagai Vision. Cloud, Firion, Noctis, Zidane, Tidus, dan banyak pahlawan lain dari seluruh seri bisa bergabung denganmu dalam bentuk ini. Setiap karakter bisa memakai satu Vision, dan Vision itu berfungsi seperti sistem job. Ia mengubah kemampuan yang bisa dipakai karakter tersebut, sehingga kamu bisa meracik kombinasi tim yang sangat berbeda-beda.
Bayangkan, satu karakter yang biasanya menyerang dari dekat bisa berubah perannya hanya karena Vision yang kamu pasangkan. Di akhir permainan, menurut laporan, ada pemain yang bisa mengubah satu giliran karakter menjadi delapan aksi lewat kombinasi yang tepat. Ini adalah kedalaman yang membuat pemain yang suka bereksperimen betah berlama-lama mengatur tim, bukan sekadar menaikkan level dan berharap menang.
Ada juga pengaturan kecepatan pertarungan: lambat, sedang, atau cepat. Ini terdengar sepele, tapi sangat membantu. Kalau kamu sedang grinding atau mengulang pertarungan biasa, kecepatan cepat membuat semuanya lebih ringkas. Kalau kamu sedang menghadapi bos yang sulit, kecepatan lambat membantumu berpikir dengan tenang.
Satu hal lagi yang patut diapresiasi adalah soal kesulitan. Menurut laporan, bermain di pengaturan kesulitan tertinggi benar-benar memberi hadiah tambahan. Di mode Expert, setiap kemenangan memberi reward ekstra. Jadi, kesulitan bukan sekadar membuat musuh lebih kuat tanpa imbalan, tapi ada alasan nyata buat pemain yang ingin tantangan lebih.
Kekurangan yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Beli
Tidak ada game yang sempurna, dan Resonance juga tidak. Kekurangan yang paling sering disebut para pengulas ada dua: dungeon yang terlalu sederhana dan pertarungan di akhir game yang terlalu lama.
Dungeon-dungeon di game ini, menurut beberapa ulasan, terasa terlalu lurus dan teka-tekinya terlalu mudah. Padahal, dunianya sendiri sangat indah dan mengundang untuk dijelajahi. Jadi, ada rasa timpang: dunia luarnya kaya dan menarik, tapi bagian dalamnya kadang terasa seperti koridor yang hanya perlu kamu lewati, bukan tempat yang perlu kamu pecahkan.
Pertarungan biasa di akhir game juga bisa terasa berlarut-larut. Sistem pertarungannya memang bagus, tapi kalau setiap pertarungan biasa memakan waktu terlalu lama, rasa serunya bisa terkikis, apalagi kalau kamu sedang ingin cepat maju dalam cerita. Ini bukan berarti pertarungannya membosankan, tapi lebih soal pacing. Ada pengulas yang berharap game ini memangkas durasi pertarungan di bagian akhir, bukan mengubah sistemnya.
Kekurangan lain yang lebih kecil adalah soal cerita yang sudah disebutkan tadi, yaitu ketergantungan pada nostalgia dan penjelasan twist akhir yang kurang. Lalu, ada catatan soal serangan CGI yang tidak menyatu dengan gaya HD-2D. Semuanya bukan kekurangan yang fatal, tapi cukup untuk membuatmu tidak berharap game ini sempurna di semua sisi.
Performa di Berbagai Platform
Soal performa, laporan yang beredar cukup menggembirakan, dengan catatan kecil. Seorang pengulas yang mencoba di PC, Steam Deck, dan Nintendo Switch 2 melaporkan game ini berjalan baik di ketiga platform tersebut. Steam Deck disebut mampu bertahan di sekitar 60 frame per detik untuk sebagian besar permainan, sementara Switch 2 juga disebut mencapai target performanya.
Catatannya, ada penurunan frame sesekali saat menjelajahi peta dunia, dan animasi, efek visual, dan cutscene yang lebih rumit juga bisa memengaruhi performa di Steam Deck dan Switch 2. Jadi, kalau kamu bermain di handheld, jangan kaget kalau ada momen-momen yang sedikit tersendat, terutama di area terbuka. Di PC, tentu saja, pengalamanmu akan sangat bergantung pada spesifikasi yang kamu pakai, dan detail performa PC secara spesifik tidak banyak dibahas dalam laporan yang kami jadikan rujukan.
Satu hal praktis yang juga dilaporkan: kamu mendapat tunggangan chocobo sejak awal permainan. Tapi, perlu diingat, chocobo ini tidak membuatmu bisa melewati pertarungan begitu saja. Pertemuan dengan musuh tetap terjadi, jadi jangan berharap bisa kabur dari semua pertarungan hanya karena sudah punya tunggangan.
Berapa Lama Memainkannya?
Durasi permainan selalu jadi pertanyaan penting, apalagi untuk JRPG. Laporan dari para pengulas bervariasi, dan itu wajar karena gaya bermain setiap orang berbeda. Satu ulasan menyebut butuh sekitar 45 jam untuk menamatkan cerita. Ulasan lain menyebut cerita bisa diselesaikan dalam 30 sampai 40 jam, tapi pemain yang sama menghabiskan hampir 90 jam karena menjelajahi semua hal tambahan.
Artinya, kalau kamu tipe pemain yang fokus ke cerita utama, siapkan waktu sekitar satu bulan bermain santai. Kalau kamu tipe yang suka menyelesaikan semua konten sampingan, mencari Esper opsional, dan meracik kombinasi Vision, waktunya bisa jauh lebih panjang. Ini adalah game yang memberi ruang buat kedua tipe pemain tersebut.
Cocok untuk Siapa?
Setelah melihat semua gambaran di atas, untuk siapa sebenarnya Final Fantasy Resonance ini?
Pertama, buat kamu yang merindukan Final Fantasy klasik. Kalau kamu tumbuh dengan Final Fantasy I sampai VI, atau merasa seri ini sudah terlalu lama meninggalkan pertarungan giliran, Resonance adalah obat rindu yang cukup mujarab. Ia tidak sekadar meniru masa lalu, tapi mengolahnya dengan sistem modern seperti stagger dan Vision.
Kedua, buat kamu yang suka meracik tim. Sistem Vision memberi banyak ruang bereksperimen. Kamu bisa mencoba kombinasi yang aneh, menemukan sinergi yang tidak terduga, dan merasa cerdas saat rencanamu berhasil di pertarungan sulit. Ini adalah game yang menghargai pemain yang mau berpikir, bukan sekadar menekan tombol yang sama berulang-ulang.
Ketiga, buat pemain baru yang belum pernah menyentuh Final Fantasy. Karena ceritanya berdiri sendiri dan tidak mengharuskanmu memainkan game mobile pendahulunya, Resonance bisa menjadi pintu masuk yang ramah. Ratingnya E10+ menurut laporan, jadi dari sisi konten pun relatif bersahabat.
Di sisi lain, ada beberapa tipe pemain yang mungkin perlu berpikir dua kali. Kalau kamu tidak suka pertarungan giliran sama sekali dan lebih suka aksi real-time yang cepat, game ini jelas bukan seleramu. Kalau kamu mudah bosan dengan dungeon yang sederhana atau pertarungan akhir yang panjang, kekurangan tadi bisa terasa. Dan kalau kamu mencari cerita yang gelap, kompleks, dan penuh kejutan moral, cerita Resonance yang cenderung lurus mungkin terasa kurang menggigit.
Tanya Jawab Singkat
Apakah Final Fantasy Resonance harus dimainkan setelah Brave Exvius? Tidak. Menurut para pengulas, game ini berdiri sendiri, dan kamu tidak perlu pernah memainkan game mobilenya.
Apakah ada unsur gacha di dalamnya? Tidak, menurut laporan. Semua unsur gacha sudah dihapus, dan game ini dijual sebagai game utuh, bukan game gratis dengan pembelian di dalam game.
Apakah bisa dimainkan di Switch? Ya, game ini tersedia di Nintendo Switch dan Nintendo Switch 2, selain PC, PlayStation 5, dan Xbox Series X|S.
Apakah ceritanya bisa dinikmati tanpa tahu seri Final Fantasy? Ya, ceritanya bisa diikuti sendiri, meski fans lama akan mendapat kesenangan tambahan dari referensi dan karakter Vision yang muncul.
Apakah ada demo? Menurut laporan, demo sudah tersedia saat peluncuran. Kalau kamu masih ragu, mencoba demonya adalah cara paling aman sebelum membeli versi penuhnya, karena kamu bisa merasakan sendiri kecepatan pertarungan dan gaya visualnya.
Apakah game ini sulit? Tergantung pengaturan yang kamu pilih. Ada mode Expert yang memberi hadiah tambahan, jadi kamu bisa menyesuaikan tantangan dengan kemampuan dan waktumu. Detail soal semua tingkat kesulitan tidak kami temukan secara lengkap, jadi sebaiknya cek langsung di dalam game sebelum memulai.
Gambaran Akhir dari Laporan yang Beredar
Dari semua ulasan yang beredar, gambaran Final Fantasy Resonance cukup konsisten. Ini adalah JRPG klasik yang dibangun ulang dengan serius, bukan sekadar daur ulang nostalgia. Sistem pertarungannya dipuji karena memaksamu berpikir lewat stagger, ekonomi giliran, dan Vision. Visual HD-2D-nya dipuji karena membuat dunia lama terasa baru. Musiknya, yang memadukan tema klasik dengan referensi dari seluruh seri, juga disebut sangat bagus oleh para pengulas.
Di sisi lain, dungeon yang sederhana, pertarungan akhir yang panjang, dan cerita yang kadang terlalu mengandalkan nostalgia adalah catatan yang terus muncul. Ini bukan kekurangan yang membuat game ini buruk, tapi cukup untuk mengingatkanmu bahwa game ini punya selera yang jelas. Ia dibuat untuk pemain yang mencintai JRPG klasik, dan ia tidak berusaha menyenangkan semua orang.
Jadi, kalau kamu termasuk pemain yang kangen pertarungan giliran, suka meracik tim, dan tidak keberatan dengan cerita klasik yang lurus, Final Fantasy Resonance layak masuk daftar belimu. Coba demonya dulu kalau masih ragu, atur kecepatan pertarungan sesuai seleramu, dan nikmati perjalanan Rain, Lasswell, dan Fina melintasi Lapis. Siapa tahu, ini bisa menjadi salah satu JRPG yang paling kamu ingat tahun ini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)