Review Phantom Blade Zero: Combat, Bos, Visual, dan Performa
Ulasan gambaran Phantom Blade Zero dari laporan publik: combat kungfupunk, bos multi-fase, senjata, visual, performa PC, PS5, dan Steam Deck, serta kekurangannya.
Pernah nggak kamu menonton film laga kungfu yang koreografinya begitu mulus sampai kamu lupa bernapas, lalu berpikir, andai saja ada game yang terasa seperti itu saat dimainkan? Phantom Blade Zero adalah jawaban yang coba diberikan S-Game. Game aksi bergaya kungfupunk ini rilis 29 Oktober 2026 untuk PlayStation 5 dan PC, dan langsung ramai dibicarakan, bukan cuma karena aksinya, tapi juga karena angka penjualannya yang besar.
Sebelum lanjut, ada dua hal yang perlu diluruskan. Pertama, artikel ini adalah ulasan gambaran yang disusun dari ulasan dan laporan publik, bukan dari pengalaman penulis yang sudah menamatkan game ini sendiri. Jadi, kamu tidak akan menemukan klaim seperti "penulis sudah menamatkan" atau skor buatan di sini. Kedua, soal penjualan, game ini dilaporkan tembus 4 juta kopi dalam 3 hari setelah rilis. Angka itu kami sebut sebagai konteks saja, karena fokus artikel ini adalah gamenya: combat, bos, visual, dan performanya, bukan berita penjualannya.
Jadi, apa sebenarnya yang membuat Phantom Blade Zero begitu dipuji para kritikus? Di mana letak kekurangannya? Dan, buat siapa game ini cocok, dan buat siapa justru tidak? Kita bahas pelan-pelan.
Premisnya Sederhana, Eksekusinya Tidak
Kamu bermain sebagai Soul, seorang pembunuh elit yang hanya punya 66 hari tersisa untuk hidup. Premis ini langsung memberi urgensi pada perjalananmu. Ini bukan cerita tentang pahlawan yang punya waktu tak terbatas untuk menyelamatkan dunia. Ini cerita tentang seseorang yang berpacu dengan waktu, dan itu terasa dalam ritme permainannya yang cepat dan tanpa banyak jeda.
Genre yang dipakai S-Game disebut kungfupunk, yaitu perpaduan dunia wuxia klasik dengan unsur punk dan teknologi yang gelap. Visualnya memadukan gerakan bela diri yang direkam lewat motion capture dengan dunia yang suram, penuh hujan, dan terasa hidup. Hasilnya, menurut banyak pengulas, pertarungan di game ini terlihat seperti film laga, bukan sekadar karakter game yang saling memukul.
Soal cerita, jujur saja, ini adalah bagian yang paling banyak dikritik. Banyak pengulas menyebut ceritanya aman, sulit diikuti, dan penyampaiannya berantakan. Ada kilas balik yang meloncat-loncat antar waktu tanpa konteks yang cukup, ada catatan dan dokumen yang tersebar tapi tidak cukup menjelaskan, dan ada karakter yang terasa kurang berkembang. IGN, misalnya, menyebut kisah pengkhianatan dan balas dendamnya bermain sangat aman. Push Square menyebut penyampaiannya buruk, sementara GamesRadar menyebut penceritaannya tidak konsisten.
Artinya, kalau kamu membeli game ini dengan harapan cerita yang kuat dan emosional seperti game naratif lainnya, kamu mungkin akan kecewa. Tapi, kalau kamu membeli game ini karena aksinya, cerita yang lemah itu mungkin tidak akan terlalu mengganggumu, karena game ini memang tidak menjadikan cerita sebagai daya tarik utamanya.
Combat Tanpa Stamina yang Terasa Seperti Tarian
Inilah bagian yang membuat Phantom Blade Zero menonjol, dan hampir semua pengulas sepakat soal ini. Sistem pertarungannya cepat, mengalir, dan sangat memuaskan, tanpa terasa seperti meniru game Soulslike secara mentah-mentah.
Perbedaan paling mendasar adalah tidak adanya stamina bar untuk gerakan normal. Kamu bisa menyerang, menghindar, dan menangkis tanpa khawatir kehabisan stamina di tengah kombo. Yang kamu kelola justru adalah meter Sha-Chi. Meter ini berkurang saat kamu memblokir atau melancarkan serangan berat, dan saat kamu berhasil menangkis serangan musuh, Sha-Chi musuhlah yang terkuras sampai akhirnya pertahanannya hancur.
Bayangkan rasanya seperti ini. Kamu tidak sedang menghitung-hitung stamina sambil mundur-mundur menunggu bar terisi. Kamu terus bergerak, terus menekan, dan setiap tangkisan yang tepat waktu terasa seperti pukulan balik yang menghukum musuh. Menyerang dan bertahan terjadi bersamaan, seperti tarian bela diri di film-film klasik. Itulah kenapa banyak pengulas menyebut combat game ini terasa seperti film laga yang bisa dimainkan.
Ada juga sistem kesulitan yang fleksibel. Game ini punya tiga tingkat kesulitan, yaitu Wayfarer, Pathbreaker, dan Hellwalker, dan kamu bisa menggantinya kapan saja. Jadi, kalau satu bos terasa terlalu sulit, kamu tidak perlu mengulang dari awal atau terjebak. Kamu bisa menurunkan kesulitan, melewati bagian itu, lalu menaikkannya lagi nanti. Ada juga aksesori yang mempermudah timing parry, buat kamu yang masih belajar.
Satu hal yang juga dipuji adalah soal kematian. Di game ini, kematian tidak membawa penalti yang berat. Kamu tidak kehilangan sesuatu yang berharga hanya karena kalah sekali. Ini membuatmu lebih berani mencoba, lebih berani bereksperimen, dan tidak takut gagal. Buat pemain yang sering merasa tertekan oleh game yang menghukum setiap kesalahan dengan keras, pendekatan ini terasa menyegarkan.
Senjata yang Banyak, dan Semuanya Terasa Berbeda
Kalau combat adalah jantung game ini, maka senjata adalah darahnya. Menurut laporan ulasan, ada sekitar 30 senjata yang bisa dikumpulkan dan ditingkatkan, dan dua di antaranya bisa kamu bawa sekaligus. Yang membuat ini spesial bukan jumlahnya, tapi fakta bahwa setiap senjata terasa benar-benar berbeda.
Seorang pengulas dari Game Informer bahkan menulis bahwa setiap senjata terasa seperti memilih karakter baru di game fighting, masing-masing dengan moveset dan kemampuannya sendiri. Itu bukan pujian yang ringan. Artinya, mengganti senjata bukan sekadar mengganti angka damage, tapi mengubah cara kamu bermain secara keseluruhan.
Ada contoh yang sering disebut, yaitu Outlaw Warblade. Senjata ini menguras darahmu saat melancarkan serangan berat, tapi mengembalikannya lewat serangan ringan. Jadi, kamu harus bermain agresif dan cerdas, bukan sekadar menyerang membabi buta. Senjata seperti ini memaksamu berpikir soal risiko dan imbalan di tengah pertarungan.
Selain senjata utama, ada juga senjata sekunder sekali pakai yang disebut Phantom Edges. Alat-alat ini memberi serangan jarak jauh atau bisa menghancurkan armor musuh dengan mudah. Mereka tidak bisa dipakai sembarangan, karena jumlahnya terbatas, jadi kamu harus memilih momen yang tepat untuk mengeluarkannya. Di pertarungan bos yang sulit, satu Phantom Edge yang dipakai di waktu yang tepat bisa mengubah jalannya pertarungan.
Satu hal lagi yang membuat eksperimen terasa aman adalah sistem peningkatan yang bisa dikembalikan. Kalau kamu sudah meningkatkan satu senjata lalu ternyata tidak cocok dengan gayamu, kamu bisa mengambil kembali peningkatan itu tanpa biaya. Jadi, tidak ada rasa takut salah pilih. Kamu bebas mencoba semua senjata, menemukan yang paling pas, dan baru setelah itu berkomitmen.
Bos yang Spektakuler, Musuh Biasa yang Kurang Greget
Kalau senjata membuat combat terasa segar, maka pertarungan bos adalah puncaknya. Hampir semua pengulas sepakat bahwa bos-bos di Phantom Blade Zero adalah bagian terbaik game ini. Mereka punya banyak fase, masing-masing dengan gimmick dan mekaniknya sendiri, dan tampilannya sangat spektakuler.
Yang membuat bos-bos ini tidak membuat frustrasi adalah sistem checkpoint antar fase. Kalau kamu mati di fase kedua, kamu langsung mulai lagi dari fase kedua itu, bukan mengulang seluruh pertarungan dari awal. Ini adalah keputusan desain yang sangat ramah pemain. Kamu bisa belajar pola bos sedikit demi sedikit, tanpa harus mengulang bagian yang sudah kamu kuasai berkali-kali.
Ada juga laporan soal mode pasca-tamat yang disebut 66 Days, yang membatasi kamu sampai 66 kematian. Detail lengkap soal mode ini tidak kami temukan secara menyeluruh dalam laporan yang dirujuk, jadi anggap saja sebagai konten tambahan buat pemain yang sudah tamat dan ingin tantangan ekstra, bukan alasan utama membeli game ini.
Sayangnya, kualitas bos ini tidak selalu diikuti oleh musuh biasa. Banyak pengulas menyebut pertarungan melawan musuh biasa terasa terlalu mudah dan berulang, terutama di bagian akhir permainan. Musuh berpelindung dan berarmor disebut membuat pertarungan terasa berlarut-larut, sementara musuh dasar terasa seperti samsak yang hanya menunggu dipukul. Jadi, ada kontras yang cukup terasa: bosnya menegangkan dan berkesan, musuh biasanya kadang terasa seperti pengisi waktu antar bos.
Ada juga keputusan desain yang memecah pendapat, yaitu musuh yang sudah dikalahkan tidak muncul lagi. Sebagian pengulas menyukai ini karena area yang sudah dibersihkan tetap bersih, dan kamu tidak perlu bertarung melawan musuh yang sama berulang-ulang saat kembali ke area lama. Sebagian lain justru merasa dunia jadi terasa kosong, dan kamu kehilangan tempat untuk berlatih. Tidak ada jawaban yang benar di sini, ini soal selera. Kalau kamu suka dunia yang terasa hidup dan penuh musuh, kamu mungkin merasa kehilangan. Kalau kamu benci grinding yang berulang, kamu mungkin justru senang.
Dunia yang Linear dan Tembok yang Tak Terlihat
Satu kritik lain yang sering muncul adalah soal desain level. Dunia Phantom Blade Zero disebut sangat linear, dan traversal atau pergerakan di luar pertarungan hanya bekerja di titik-titik yang sudah ditentukan. Ada laporan soal tembok tak terlihat yang menghalangi upaya platforming sederhana, dan itu kadang berujung pada kematian karena jatuh yang terasa tidak adil.
Ini penting buat kamu yang suka menjelajah bebas. Phantom Blade Zero bukan game open world yang mengajakmu tersesat dan menemukan rahasia di setiap sudut. Ia lebih seperti panggung aksi yang mengarahkanmu dari satu pertarungan ke pertarungan berikutnya. Eksplorasi memang ada, dan GamesRadar bahkan memuji eksplorasinya, tapi jangan berharap kebebasan seperti game dunia terbuka.
Buat sebagian pemain, linearitas ini bukan masalah, karena fokus game ini memang pertarungan, bukan eksplorasi. Buat pemain lain yang suka dunia yang bisa dijelajahi dengan bebas, ini bisa terasa membatasi. Sekali lagi, ini soal apa yang kamu cari dari sebuah game aksi.
Visual Kungfupunk yang Memukau
Secara visual, Phantom Blade Zero adalah salah satu game aksi yang paling mencolok tahun ini menurut para pengulas. Arah seni kungfupunk-nya, yang memadukan bela diri klasik dengan dunia yang gelap dan penuh gaya, mendapat pujian hampir di semua ulasan. Gerakan bela diri yang direkam lewat motion capture membuat setiap serangan, tangkisan, dan gerakan menghindar terlihat halus dan berbobot, bukan kaku seperti animasi buatan.
Dunia yang ditampilkan juga punya identitas yang kuat. Ada daerah hujan seperti Pangzhen yang disebut-sebut dalam laporan performa, ada hutan yang disebut Crimson Forest, dan ada berbagai lokasi yang masing-masing punya suasana sendiri. Hujan, cahaya, dan arsitektur dunia wuxia berpadu menjadi latar yang tidak mudah dilupakan, bahkan saat kamu sedang fokus bertarung.
Tapi, visual yang bagus ini juga punya harga, terutama di sisi performa. Kita bahas itu di bagian berikutnya, karena ini adalah salah satu hal yang perlu kamu pertimbangkan sebelum membeli, tergantung platform yang kamu pakai.
Performa: Bagus di PC dan PS5, Bermasalah di Steam Deck
Soal performa, laporan yang beredar cukup bervariasi, dan ini penting karena pengalamanmu bisa sangat berbeda tergantung perangkatmu.
Di PC, laporan yang paling sering dikutip menyebut game ini berjalan baik, dengan kompilasi shader saat pertama kali dijalankan. Satu laporan menyebut sekitar 100 frame per detik pada resolusi 4K dengan pengaturan High dan DLSS Quality di kartu grafis RTX 4080, dengan sedikit stutter saat berpindah area. Tapi, mengaktifkan ray tracing disebut menurunkan performa ke kisaran 50-an frame per detik, dan path tracing menurunkannya lagi ke sekitar 30 frame per detik. Laporan lain, dari perangkat RTX 5080, menyebut ada masalah frame pacing dan stutter kamera meski frame rate-nya sekitar 60 frame per detik dengan pengaturan maksimal dan path tracing. Jadi, di PC pun, pengalamanmu bisa berbeda tergantung pengaturan dan perangkat yang kamu pakai.
Di PlayStation 5, gambarannya lebih konsisten, tapi tidak sempurna. Mode Performance disebut berjalan mostly 60 frame per detik, dengan penurunan di daerah hujan seperti Pangzhen dan di beberapa bos. Di PS5 Pro, ada laporan yang menyebut frame rate mostly stabil 60 dengan ray tracing menyala, tapi ada juga laporan soal penurunan frame yang parah saat bertarung, bahkan dengan ray tracing dimatikan. Ada juga laporan soal patch yang dirilis S-Game untuk mengatasi beberapa masalah teknis, tapi efektivitasnya disebut belum terverifikasi secara menyeluruh. Artinya, kalau kamu bermain sekarang, pengalamanmu mungkin sudah lebih baik dari saat ulasan pertama ditulis, tapi kami tidak bisa menjamin itu tanpa laporan yang lebih baru.
Di Steam Deck, penilaiannya jauh lebih tegas: untuk saat ini, sebaiknya dihindari. Laporan menyebut game ini berjalan di bawah 30 frame per detik pada pengaturan terendah, dengan kisaran 23 sampai 27 frame per detik di Crimson Forest dan penurunan sampai sekitar 10 frame per detik di area ramai. Daya tahan baterai juga disebut hanya sekitar dua sampai dua setengah jam. Jadi, kalau Steam Deck adalah perangkat utamamu, Phantom Blade Zero bukan pilihan yang bijak untuk saat ini.
Satu hal praktis soal harga: game ini dijual sekitar 59,99 dolar di PC dan PS5 menurut laporan. Harga di Indonesia, termasuk pajak dan konversi, tidak kami temukan secara pasti dalam laporan yang dirujuk, jadi sebaiknya cek langsung di toko tempat kamu biasa membeli sebelum memutuskan.
Berapa Lama Memainkannya?
Menurut rangkuman ulasan, cerita utama Phantom Blade Zero memakan waktu sekitar 25 sampai 30 jam, dan sekitar 40 sampai 50 jam kalau kamu mengerjakan sebagian besar konten sampingan. Ini adalah durasi yang cukup sehat untuk game aksi. Tidak terlalu pendek sampai terasa kurang, tapi juga tidak terlalu panjang sampai melelahkan.
Durasi ini juga masuk akal mengingat struktur gamenya. Karena musuh tidak respawn dan dunianya linear, kamu tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk grinding yang berulang. Waktumu lebih banyak dihabiskan untuk pertarungan bos, eksplorasi, dan mencoba senjata-senjata baru, bukan untuk mengulang area yang sama berkali-kali.
Apa Kata Kritikus Secara Keseluruhan?
Kalau dirangkum, tanggapan kritikus terhadap Phantom Blade Zero sangat positif, dengan catatan yang jelas. Skor agregat yang dilaporkan berada di sekitar 88 di Metacritic, dengan OpenCritic di kisaran 89 sampai 91 tergantung laporan dan waktu pengecekan. Beberapa media besar seperti IGN dan Push Square memberi nilai 9 dari 10, sementara VGC memberi 4 dari 5. Ada juga media yang memberi nilai sempurna, dan ada satu media, Eurogamer, yang memberi nilai lebih rendah, 3 dari 5, dengan peringatan bahwa pemain yang tidak suka combat berbasis menghindar dan menangkis mungkin tidak akan menikmatinya.
Penting untuk diingat, angka-angka ini adalah skor dari media lain, bukan skor dari artikel ini. Kami menyebutnya supaya kamu punya gambaran soal penerimaan kritikus secara umum, bukan untuk menggantikan penilaianmu sendiri. Dan, seperti biasa, skor agregat bisa berubah seiring bertambahnya ulasan.
Pola pujian dan kritiknya cukup konsisten. Yang dipuji: combat, senjata, bos, dan visual. Yang dikritik: cerita, desain level yang linear, musuh biasa yang berulang, dan performa di beberapa platform. Hampir semua keluhan adalah soal apa yang mengelilingi combat, bukan combat itu sendiri. Itulah kenapa banyak pengulas tetap merekomendasikan game ini dengan mudah, meski mereka mengakui kekurangannya.
Cocok untuk Siapa?
Setelah semua gambaran di atas, untuk siapa sebenarnya Phantom Blade Zero ini?
Pertama, buat kamu yang suka game aksi cepat dan stylish. Kalau kamu suka menangkis, menghindar, dan merasa seperti bintang film laga, game ini dibuat untukmu. Sistem tanpa stamina membuatmu bisa terus bergerak, dan variasi senjata membuatmu tidak cepat bosan.
Kedua, buat kamu yang suka tantangan tapi tidak suka dihukum terlalu keras. Sistem checkpoint antar fase bos, kematian tanpa penalti berat, dan kesulitan yang bisa diganti kapan saja membuat game ini jauh lebih ramah daripada game aksi sulit lainnya. Kamu tetap akan merasa tertantang, tapi tidak akan merasa dipermainkan.
Ketiga, buat kamu yang suka mengoleksi dan bereksperimen. Sekitar 30 senjata yang masing-masing terasa berbeda, ditambah Phantom Edges dan sistem peningkatan yang bisa dikembalikan, memberi banyak ruang buat mencoba. Kalau kamu tipe pemain yang senang menemukan kombinasi favoritmu sendiri, game ini akan memanjakanmu.
Di sisi lain, ada beberapa tipe pemain yang mungkin perlu berpikir dua kali. Kalau kamu mencari cerita yang kuat dan karakter yang dalam, game ini mungkin akan mengecewakanmu. Kalau kamu tidak suka combat yang berbasis menangkis dan menghindar, seperti yang diperingatkan Eurogamer, kamu mungkin tidak akan menikmatinya. Kalau perangkat utamamu adalah Steam Deck, performanya saat ini menjadi alasan kuat untuk menunggu. Dan kalau kamu suka dunia terbuka yang bebas dijelajahi, linearitas game ini bisa terasa membatasi.
Tanya Jawab Singkat
Apakah Phantom Blade Zero itu Soulslike? Tidak sepenuhnya. Meski ada pengaruh dari game-game FromSoftware, seperti checkpoint dan bos multi-fase, game ini lebih terasa seperti game aksi arcade yang cepat, tanpa stamina bar dan tanpa penalti kematian yang berat. Jadi, jangan berharap pengalaman Soulslike yang keras dan menghukum.
Apakah game ini sulit? Tergantung pengaturan yang kamu pilih. Ada tiga tingkat kesulitan yang bisa diganti kapan saja, plus aksesori yang mempermudah timing parry. Jadi, kamu bisa menyesuaikan dengan kemampuanmu.
Apakah musuh akan muncul lagi setelah dikalahkan? Menurut laporan, tidak. Area yang sudah dibersihkan tetap bersih, dan ini menjadi salah satu hal yang memecah pendapat para pengulas.
Apakah game ini tersedia di Xbox? Dalam laporan yang kami jadikan rujukan utama, platform yang disebut adalah PlayStation 5 dan PC, sesuai dengan peluncuran 29 Oktober 2026 yang kami pakai di artikel ini. Ada laporan lain yang menyebut platform berbeda, jadi kalau kamu bermain di platform lain, sebaiknya cek langsung di toko resmi sebelum membeli.
Apakah ada mode setelah tamat? Menurut laporan, ada mode 66 Days yang membatasi kematian sampai 66 kali. Detail lengkapnya tidak kami temukan secara menyeluruh, jadi anggap saja sebagai tantangan tambahan, bukan alasan utama membeli.
Gambaran Akhir dari Laporan yang Beredar
Dari semua ulasan yang beredar, gambaran Phantom Blade Zero cukup jelas. Ini adalah game aksi yang combat-nya luar biasa, bosnya spektakuler, senjatanya beragam, dan visualnya memukau, tapi ceritanya lemah, dunianya linear, musuh biasanya berulang, dan performanya perlu diperhatikan tergantung platform.
Kalau kamu membeli game ini karena ingin merasakan aksi wuxia yang cepat, mengalir, dan memuaskan, kemungkinan besar kamu akan puas. Kalau kamu membelinya karena ingin cerita yang dalam atau dunia yang bebas dijelajahi, kamu mungkin akan merasa ada yang kurang.
Jadi, sebelum membeli, tanyakan pada dirimu sendiri satu hal sederhana: apa yang paling kamu cari dari game aksi? Kalau jawabannya adalah pertarungan yang terasa seperti film laga, dengan senjata yang banyak dan bos yang berkesan, Phantom Blade Zero layak masuk daftar belimu. Cek dulu performa di platform yang kamu pakai, atur kesulitan sesuai kemampuanmu, dan nikmati 66 hari terakhir Soul dengan cara yang paling bergaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)